Real Madrid Akhirnya Menyerah: Proyek Super League Resmi Berakhir Setelah Kesepakatan dengan UEFA
Real Madrid Akhirnya Menyerah: Proyek Super League Resmi Berakhir Setelah Kesepakatan dengan UEFA
Real Madrid secara resmi mengakhiri perjuangan panjangnya dalam memajukan European Super League (ESL) setelah mencapai kesepakatan damai dengan UEFA pada 10 Februari 2026.
Langkah ini menandai akhir dari saga kontroversial yang dimulai pada April 2021, ketika 12 klub besar Eropa termasuk Madrid mengumumkan pembentukan liga baru yang menjanjikan pendapatan miliaran euro tanpa degradasi.
Namun, setelah tekanan masif dari fans, pemerintah, dan badan sepak bola, hanya Madrid dan Barcelona yang bertahan sebagai pendukung utama hingga akhirnya keduanya mundur.
Keputusan ini datang tak lama setelah Barcelona mengirim surat resmi penarikan diri pada 7 Februari 2026, meninggalkan Florentino Perez, presiden Madrid, berjuang sendirian. Perez, yang menjadi arsitek utama ESL melalui A22 Sports Management, sempat menggugat UEFA di pengadilan Eropa dan memenangkan beberapa putusan yang memaksa UEFA membuka kompetisi lebih inklusif.
Meski begitu, realitas pasar dan dukungan minim membuat proyek itu tak layak. Pernyataan bersama Madrid, UEFA, dan European Football Clubs (EFC) menegaskan komitmen untuk “kebaikan sepak bola Eropa,” dengan penekanan pada prinsip merit, keberlanjutan finansial klub, dan pengalaman fans melalui inovasi teknologi.
Kronologi Lengkap Runtuhnya ESL
Saga ESL bermula dari krisis finansial akibat pandemi COVID-19, di mana klub-klub seperti Madrid mengeluh atas distribusi pendapatan UEFA yang dianggap tak adil.
Pada 18 April 2021, 12 klub pendiri mengumumkan ESL dengan format 20 tim, 18 tetap dan dua slot berdasarkan performa.
Reaksi global langsung meledak: fans memprotes masif, pemain seperti Gary Neville menyebutnya “pengkhianatan,” dan UEFA mengancam sanksi berat.
Hanya 48 jam kemudian, sembilan klub mundur, meninggalkan Madrid, Barcelona, dan Juventus.
Selama empat tahun berikutnya, tiga klub tersisa bertahan melalui jalur hukum.
Pengadilan Uni Eropa pada 2024 memutuskan UEFA melanggar aturan persaingan, memaksa penyesuaian Liga Champions menjadi lebih “Super League-like” dengan 36 tim mulai 2024/25.
Namun, Barcelona mundur pertama karena masalah finansial dan hubungan buruk dengan Madrid, diikuti Juventus sebelumnya.
Madrid bertahan paling lama, tapi akhirnya menyerah setelah negosiasi intensif minggu lalu. Kesepakatan ini juga melibatkan penarikan semua gugatan hukum, memungkinkan Madrid kembali ke asosiasi klub Eropa tanpa hambatan.
Dampak bagi Sepak Bola Eropa
Kemenangan ini mengukuhkan dominasi UEFA di bawah presiden Aleksander Ceferin, yang disebut sebagai “pahlawan” oleh banyak pihak.
Liga Champions musim 2025/26 tetap berjalan dengan format baru yang lebih kompetitif, menarik pendapatan rekor berkat penjualan hak siar global.
Bagi Madrid, langkah ini membuka pintu fokus penuh pada La Liga dan UCL, di mana mereka sedang memperebutkan gelar domestik melawan Barcelona yang unggul tipis. Florentino Perez menyatakan, “Kami selalu prioritaskan masa depan sepak bola,” meski banyak pengamat melihat ini sebagai kekalahan telak.
Fans menyambut positif, dengan tagar #RIPSuperLeague trending di media sosial. Klub kecil seperti Ajax dan Dortmund merasa lega karena ESL berpotensi merusak piramida sepak bola.
Ke depan, UEFA berjanji reformasi lebih lanjut, termasuk dana solidaritas lebih besar untuk liga kecil. Proyek ESL yang gagal ini jadi pelajaran berharga: sepak bola tetap milik fans, bukan hanya bisnis elit.