Kesalahan Erik Ten Hag di Bayer Leverkusen yang Membuatnya Dipecat
Kesalahan Erik Ten Hag di Bayer Leverkusen
Beberapa kesalahan Erik Ten Hag yang mengalami masa singkat dan penuh tekanan di Bayer Leverkusen, yang berujung pada pemecatannya hanya setelah dua laga Bundesliga 2025/2026.
Sebagai pelatih baru yang menggantikan Xabi Alonso, Ten Hag menghadapi beban besar untuk melanjutkan keberhasilan klub, namun berbagai kesalahan dan tantangan yang kurang teratasi membuat posisinya tidak bertahan lama.
Berikut adalah kesalahan-kesalahan utama yang dilakukan Ten Hag selama di Leverkusen.
1. Hasil Buruk yang Langsung Mempengaruhi Kepercayaan Manajemen
Salah satu kesalahan paling krusial adalah performa buruk tim di pertandingan awal Bundesliga musim ini. Leverkusen tumbang dengan skor 1-2 di kandang sendiri saat menghadapi Hoffenheim, sebuah hasil yang sangat mengecewakan bagi klub yang baru saja meraih juara tanpa kekalahan musim sebelumnya. Selanjutnya, ketika bertemu Werder Bremen yang bermain dengan 10 pemain, Leverkusen sempat unggul 3-1, namun akhirnya hanya mampu bermain imbang 3-3 setelah membuang keunggulan di 15 menit terakhir.
Hasil-hasil tersebut menggambarkan ketidakstabilan dan kelemahan dalam mengelola pertandingan serta menggugurkan kepercayaan manajemen. Dengan ekspektasi sangat tinggi yang melekat pada Ten Hag, kegagalan meraih hasil positif membuat situasi pelatih asal Belanda ini menjadi kritis dalam waktu yang sangat singkat sejak penunjukkannya.
2. Gagal Mengelola Ruang Ganti dan Bahasa yang Memicu Ketegangan
Selain masalah hasil di lapangan, cara Ten Hag mengelola ruang ganti pemain juga menjadi sorotan. Situasi menjadi rumit karena Leverkusen tengah menjalani perombakan besar-besaran di skuadnya. Kehilangan beberapa pemain kunci seperti Florian Wirtz, Jeremie Frimpong, dan Granit Xhaka menambah beban besar untuk membangun tim baru.
Ten Hag sempat menyatakan secara terbuka bahwa skuadnya belum siap dan pemain belum cukup fit untuk memenuhi standar intensitas yang diinginkan. Komentar ini memicu isu internal dan ketidakharmonisan di ruang ganti, menimbulkan kritik serta kecemasan tentang kepemimpinan dan komunikasi pelatih. Sikap ini dianggap memperburuk suasana hati pemain dan menurunkan kepercayaan mereka terhadap arahan TErik en Hag.
3. Kurangnya Dukungan Manajemen dan Tanda-Tanda Pemecatan Dini
Kesalahan lain yang berperan signifikan adalah kurangnya dukungan positif dari manajemen klub terhadap Ten Hag. Direktur olahraga Simon Rolfes dan jajaran manajemen disebut-sebut meragukan kemampuan Ten Hag untuk membangun tim baru dengan skuad yang telah diremehkan setelah banyak pemain bintang hengkang.
Manajemen yang tidak menyatakan dukungan secara terbuka kepada pelatih baru seolah memberi sinyal sinis bahwa mereka sudah tidak yakin dengan proyek pelatih asal belanda itu. Ketidakpastian ini menambah tekanan psikologis bagi pelatih dan mengurangi peluangnya untuk menerapkan visi jangka panjang. Keputusan pemecatan yang sangat cepat, hanya dalam waktu sekitar dua bulan sejak kedatangannya, mencerminkan betapa kuat rasa ketidakpercayaan yang telah tumbuh di internal klub.
Dalam waktu singkat, berbagai kesalahan dan situasi sulit membuat peran Ten Hag di Leverkusen menjadi tidak stabil, berakhir dengan pemecatan paling cepat dalam sejarah modern klub. Meski dikenal berprestasi dengan membawa Ajax dan Manchester United mencapai puncak tertentu, Ten Hag gagal mengatasi tekanan dan tantangan di Leverkusen yang mengharuskannya mendapatkan hasil instan dan membangun tim cepat.