Vinicius hingga Bellingham: Deretan Pemain Real Madrid yang Kurang Bahagia di Era Xabi Alonso
Vinicius hingga Bellingham: Deretan Pemain Real Madrid yang Kurang Bahagia di Era Xabi Alonso
Kepemimpinan Xabi Alonso di Real Madrid sejak musim 2025 menuai berbagai reaksi dari para pemain. Meskipun tim berhasil memuncaki klasemen La Liga, suasana ruang ganti mulai memanas akibat perbedaan gaya kepemimpinan dan taktik yang diterapkan oleh pelatih asal Spanyol tersebut. Pendekatan Alonso yang lebih modern, taktis, dan terstruktur ternyata tidak sepenuhnya diterima oleh sebagian besar pemain senior yang terbiasa dengan gaya Carlo Ancelotti yang lebih fleksibel.
Beberapa pemain mulai menunjukkan ketidakpuasan, bahkan ada yang secara terbuka menyuarakan keluhan terhadap metode latihan dan keputusan taktik Alonso. Konflik internal ini sempat menjadi sorotan media, terutama setelah beberapa pemain absen dari latihan dan melakukan perjalanan ke Ibiza, yang tidak diizinkan oleh pelatih. Ketegangan ini berpotensi mengancam stabilitas tim di tengah ambisi besar Real Madrid di musim ini.
Thibaut Courtois
Thibaut Courtois, kiper utama Real Madrid, dikabarkan mulai merasa tidak nyaman dengan sistem permainan yang diterapkan Xabi Alonso. Gaya bermain yang mengandalkan penguasaan bola dari belakang sering kali membuatnya merasa tertekan, karena harus lebih sering bermain sebagai bagian dari lini belakang yang membangun serangan. Selain itu, metode latihan Alonso yang lebih intensif dan analitis dianggap terlalu membebani bagi pemain yang sudah berusia matang seperti Courtois.
Ketidaknyamanan Courtois juga terlihat dari minimnya komunikasi dengan pelatih dan beberapa kali terlihat frustrasi di lapangan. Meskipun masih menjadi pilihan utama, Courtois merasa gaya kepemimpinan Alonso kurang memberi ruang bagi pemain senior untuk mengekspresikan diri secara bebas.
Vinicius Junior
Vinicius Junior, salah satu bintang muda Real Madrid, juga termasuk dalam daftar pemain yang merasa tidak bahagia di bawah Alonso. Pemain asal Brasil ini merasa gaya bermain yang mengandalkan penguasaan bola dari belakang membatasi kreativitasnya di lapangan. Vinicius lebih nyaman dengan permainan cepat dan langsung, bukan dengan pendekatan taktis yang sangat terstruktur seperti yang diterapkan Alonso.
Ketegangan antara Vinicius dan Xabi Alonso sempat memuncak saat pelatih menariknya keluar di tengah pertandingan El Clasico, yang memicu ketidakharmonisan di ruang ganti. Vinicius merasa keputusan tersebut tidak adil dan menunjukkan kurangnya kepercayaan dari pelatih terhadap kemampuannya.
Jude Bellingham
Jude Bellingham, gelandang muda yang menjadi andalan Real Madrid, juga mengalami ketidaknyamanan dengan gaya kepemimpinan Xabi Alonso. Bellingham merasa metode latihan dan taktik Alonso terlalu kaku dan tidak memberi ruang bagi pemain muda untuk berkembang secara alami. Ia lebih suka bermain dengan kebebasan dan improvisasi, bukan dengan instruksi yang sangat detail dan terstruktur.
Ketidakpuasan Bellingham juga terlihat dari minimnya komunikasi dengan pelatih dan beberapa kali terlihat frustrasi di sesi latihan. Meskipun masih menjadi pemain penting, Bellingham merasa gaya kepemimpinan Alonso kurang mendukung perkembangan pemain muda seperti dirinya.
Federico Valverde
Federico Valverde, gelandang serba bisa Real Madrid, merasa tidak nyaman karena belum mendapatkan posisi dan menit bermain yang konsisten di bawah Xabi Alonso. Pemain asal Uruguay ini sering dipindah ke berbagai peran, yang membuatnya kehilangan koneksi dengan pelatih dan merasa tidak maksimal dalam berkontribusi. Valverde lebih suka bermain di posisi yang tetap dan memiliki kebebasan untuk bergerak sesuai instingnya.
Ketidaknyamanan Valverde juga terlihat dari minimnya komunikasi dengan pelatih dan beberapa kali terlihat frustrasi di lapangan. Ia merasa gaya kepemimpinan Alonso kurang memberi ruang bagi pemain yang memiliki karakteristik bermain agresif dan dinamis.
Eduardo Camavinga
Eduardo Camavinga, gelandang muda Real Madrid, juga merasa tidak nyaman dengan gaya kepemimpinan Xabi Alonso. Camavinga merasa belum mendapatkan posisi tetap di tim inti dan sering dipindah ke berbagai peran, yang membuatnya kehilangan koneksi dengan pelatih. Ia lebih suka bermain di posisi yang tetap dan memiliki kebebasan untuk bergerak sesuai instingnya.
Ketidaknyamanan Camavinga juga terlihat dari minimnya komunikasi dengan pelatih dan beberapa kali terlihat frustrasi di sesi latihan. Ia merasa gaya kepemimpinan Alonso kurang mendukung perkembangan pemain muda seperti dirinya.