Andai FIGC Mau Mendengar Roberto Baggio, Nasib Timnas Italia Takkan Sepuruk Saat Ini

Andai FIGC Mau Mendengar Roberto Baggio, Nasib Timnas Italia Takkan Sepuruk Saat Ini/ foto by Matador168 studio

Andai FIGC Mau Mendengar Roberto Baggio, Nasib Timnas Italia Takkan Sepuruk Saat Ini/ foto by Matador168 studio

Nama Roberto Baggio Kembali viral usai kegagalan tim nasional Italia lolos ke Piala Dunia 2026 untuk ketiga kalinya secara beruntun menjadi pukulan telak bagi publik sepak bola Negeri Pizza.

Hal itu terjadi setelah tersingkir lewat drama adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina di babak play-off kualifikasi zona Eropa, Azzurri kembali absen dari panggung dunia.

Pelatih Gennaro Gattuso pun memilih mundur, mempertegas bahwa krisis yang membelit Italia bukan sekadar masalah teknis di lapangan, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Visi Roberto Baggio yang Tak Pernah Terwujud

Di tengah situasi ini, publik Italia kembali mengingat Roberto Baggio bukan hanya sebagai legenda, tetapi sebagai sosok yang pernah mencoba memperbaiki fondasi sepak bola Italia.

Niat baik Baggio terjadi tak lama setelah kegagalan di Piala Dunia 2010. Saat itu Ia ditunjuk memimpin sektor teknis FIGC. Ia kemudian menyusun laporan komprehensif berjudul Rinnovare il Futuro. Laporan tersebut berisi 100 halaman bekerjasama dengan 50 an ahli dari berbagai bidang.

Isi laporan tersebut menyoroti sejumlah persoalan mendasar seperti lemahnya pembinaan usia muda, kualitas pelatih yang belum merata, hingga minimnya infrastruktur pendukung. Namun sayangnya, ide besar itu tidak pernah benar-benar dijalankan. Pada 2013, Baggio memilih mundur.

Fondasi yang Seharusnya Dibangun Sejak Dini

Dalam gagasannya, Baggio menekankan pentingnya membangun sistem dari bawah. Ia mengusulkan peningkatan kualitas pelatih usia dini dengan pendekatan yang lebih akademis dan ilmiah, termasuk kolaborasi dengan universitas.

Selain itu, ia juga mendorong pembangunan pusat pelatihan di berbagai wilayah Italia untuk memperbanyak kesempatan bermain bagi pemain muda. Tujuannya jelas: menciptakan ekosistem kompetitif sejak usia dini.

Pendekatan seperti ini sudah lebih dulu diterapkan oleh negara seperti Spanyol dan Jerman. Hasilnya memang tidak instan, tetapi terbukti mampu menjaga konsistensi prestasi dalam jangka panjang.

Kegagalan yang Terus Berulang

Kegagalan timnas Italia saat ini seakan menjadi akibat tidak mendengarkan sang legenda di beberapa tahun silam.

Nyatanya, Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia setelah sebelumnya absen pada 2018 dan 2022.

Sangat ironis mengingat Italia merupakan salah satu negara yang memiliki koleksi 4 Piala Dunia.

Tekanan pun datang dari berbagai arah. Federasi disorot, pemain dikritik, dan tuntutan reformasi semakin menguat. Banyak yang mulai menyadari bahwa masalah utama bukan sekadar pergantian pelatih atau strategi, melainkan sistem yang belum dibenahi secara menyeluruh.

Gagasan Roberto Baggio Untuk Masa depan Italia

Dengan Piala Dunia 2030 di depan mata, Italia masih punya kesempatan untuk bangkit. Namun, hal itu hanya bisa terjadi jika ada keberanian untuk melakukan perubahan nyata.

Gagasan Roberto Baggio yang dulu diabaikan kini justru terasa semakin relevan. Sepak bola modern menuntut sistem yang kuat, pembinaan berkelanjutan, dan visi jangka panjang.

Kisah ini menjadi pengingat sederhana: terkadang, masalah terbesar bukan karena tidak ada solusi, melainkan karena solusi yang ada tidak pernah benar-benar dijalankan.